PANDANGLAH KE LAUT, APA YANG ANDA FIKIRKAN???



“ Jika seseorang mengerahkan pandangan ke laut, memikirkan permukaan laut yang biru, maka akan terfikir untuk bermain air atau berenang sekedar berolahraga saja. Mungkin juga hanya sekedar memandang ke lautan untuk menyejukkan matanya dan menikmati keindahan panorama ini.”“Jika seseorang mengarahkan pandangan ke laut, dan memikirkan apa yang ada didalam laut, maka akan terfikir untuk mengambil mutiara untuk dijadikan perhiasan, Ikan-ikan sebagai makanannya. Boleh jadi mereka akan mengkaji spesies kehidupan lautan.” “Jika seseorang mengarahkan pandangan ke laut, dan memikirkan apa yang ada di dasar laut pula, mereka akan berfikirkan untuk mengambil minyak bumi yang ada di dasar laut, untuk digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Penjualan minyak ini akan membawa keuntungan berlipat -lipat. Mungkin akan menyebabkan dia seseorang yang kaya raya. “ (Ahmad bin Hanbal, web.islam.gov.my/forum/mesej.php.)Ilustrasi di atas lahir dari pola fikir sebagian manusia dalam menyikapi realita/kenyataan. Dapat disebutkan, cara berfikir mereka ada tiga yaitu : 1. Memandang laut di permukaan saja adalah kiasan bagi berfikiran Dangkal2. Memandang laut di dalam laut saja adalah kiasan bagi berfikiran Mendalam3. Memandang laut di dasarnya saja adalah kiasan bagi berfikiran Cemerlang Demikianlah cara sebagian manusia berfikir dalam mencermati realitas (fakta, kenyataan) yang ada dihadapannya. Suatu realita yang ada didepan mata hanya dilihat dari dzahirnya saja tanpa memikirkan apa yang ada dibalik realitas tersebut. Yang terpikir dalam benaknya hanyalah kesenangan atau kegembiraan saja. Tidak terfikir olehnya untuk melakukan sesuaru yang bisa membuat keadaan tersebut semakin lebih baik. Pemikirannya hanya sebatas panca inderanya. Ia hanya mampu memikirkan apa yang mampu panca inderanya dapatkan. Memandang apa adanya realitas, tidak berpandangan jauh. Inilah yang dimiliki oleh orang-orang yang berfikiran dangkal. Adapun, berfikiran mendalam, boleh didefinasikan orang yang memikirkan sesuatu yang difahami tetapi tidak mendasar atau tidak mengetahui puncak-puncaknya. Juga gagal mengaitkan fakta-fakta yang benar lagi sahih. Maka dengan itu orang yang berfikiran mendalam tidak mampu memikirkan puncak-puncak realitas yang ada dibaliknya dan yang tersirat melainkan memikirkan apa-apa yang tersurat saja. Walaupun cara berfikirnya mendalam, amat perlu ditingkatkan lagi sehingga menjadi berfikir cemerlang (Fikrul Mustanir). Cara berfikir cemerlang, mempunyai suatu pandangan yang jauh, memahami puncak-puncak suatu kejadian serta mengetahui penyelesaiannya yang paling tepat. Mampu mengaitkan fakta-fakta yang benar lagi sahih serta mengetahui perkara-perkara yang ada dibaliknya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Untuk memahami maksud di atas, sebagai orang Islam perlulah merujuk kepada Al Quran sebagai petunjuk dan panduan hidup kita.“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berfikir (berakal).” [TQS. Ali Imran, 3: 190] Orang yang berfikiran cemerlang akan memperhatikan segala kejadian yang ada dilangit seperti matahari, bintang, bulan dan sebagainya serta segala hal yang ada dibumi seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan sebagainya. Perhatian mereka terhadap alam semesta, kehidupan dan manusia di dunia ini membuat mereka berfikir mestilah ada Penciptanya (alam semesta, kehidupan dan manusia), serta memperhatikan kejadian silih bergantinya kejadian malam dan siang menunjukkan pasti akan adanya Pengatur dari kejadian tersebut. Memperhatikan isi kejadian yang ada dilangit dan dibumi akan melahirkan sebuah pemikiran bahwa semuanya terjadi mengikuti suatu peraturan yang telah ditetapkan. Orang yang berfikiran mengenai hal tersebut akan meyakini semua yang terjadi menunjukkan akan adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, yang dipanggil Allah SWT. Maka Maha Pencipta dan Maha Pengatur membuat peraturannya sesuai dengan fitrah kejadiannya (sunnatullah). Karena fitrah kejadian ini juga diciptakan oleh Maha Penciptanya, maka dengan itu sesuailah kejadian tersebut mengikuti peraturan yang ditentukan oleh Maha Pengaturnya. Inilah orang yang mempunyai fikiran cemerlang yang mengaitkan dan berlandaskan fakta-fakta yang benar lagi sahih yaitu Al Quran dan As Sunnah. Serta mengetahui yang akan berlaku dari fakta-fakta yang benar itu dengan adanya hari Hisab di padang Mahsyar atas segala amalannya yang dikerjakan di pentas ujian ini (didunia). Serta mencari keredhaan dari Maha Pencipta dan Maha Pengaturnya (Allah) dengan ketentuannya yang termaktub di dalam risalahnya iaitu Al Quran sebagai panduan dan bimbingannya dan apa-apa yang datang dari seorang yang diutuskanNya sebagai contoh dan suri tauladan dari segi ucapannya, perbuatannya dan sifat diamnya yang disebut As Sunnah yang di bawa oleh Muhammad SAW sebagai utusan dan pesuruh Allah Swt.Fikiran cemerlang ini wajar dimiliki oleh setiap insan yang beragama Islam. Karena Islam itu agama yang sempurna/syumul. Islam itu tinggi dan mengalahkan agama yang lain yang ada didunia ini. Tetapi kini, Islam hanya tak ubahnya seperti seekor Harimau yang kehilangan taring dan kukunya. Islam yang dahulunya dikenali gagah, hebat, terkuat dan pernah memiliki 2/3 dunia hanya tinggal kenangan. Islam saat ini diinjak-injak, dihinakan dan dirusak oleh musuh-mkusuhnya. Darah yang mengalir dari kaum muslimin saat ini bagaikan darah yang tidak berharga, karena tak ada pembelanya. Nyawa orang Islam lebih murah jika hendak dibandingkan dengan nyawa Ikan Paus yang mempunyai Akta Perlindungan. Kemuliaan orang Islam tidak perlu diceritakan lagi,hilang lenyap entah kemana. Pendek kata saat ini perkara buruk yang menimpa umat islam saat ini dipikul diatas bahu setiap muslim termasuklah empunya diri ini.Mengapa? Sebab keterpurukan dan kehinaan orang islam saat ini dikarenakan mayoritas kaum muslimin berfikiran dangkal tidak berfikiran cemerlang. Ketidakmampuan memikirkan apa yang ada dibalik realitas yang dihadapi saat ini. Hanya memikirkan kesenangan dan kegembiraan saja. Bahkan tidak berusaha untuk merubah keadaan yang memprihatinkan supaya berubah menjadi lebih baik. Memandang realitas yang ada tanpa berfikiran jauh. Inilah ciri-ciri yang dimiliki oleh orang yang berfikiran dangkal.Apabila orang islam memandang permasalahan yang yang terjadi saat ini - kemiskinan, korupsi, kriminalitas, degradasi moral, kenaikan harga barang, kenaikan bahan bakar, mahalnya biaya pendidikan, wabah kelaparan- secara menyeluruh, maka akan didapatkan kesimpulan bahwasanya semuanya mempunyai korelasi satu sama lain. Permasalahan yang terjadi dan menimpa kaum muslimin saat ini diakibatkan oleh kebijakan para pemangku otoritas(pemerintah) yang tidak cemerlang. Kebijakan yang lahir dari pandangan pendek, Menyelesaikan masalah sebagian-sebagian, atau menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan duniawi telah membawa kehancuran pada negeri ini. Inilah saya kira ciri pemerintah kita pun ternyata berfikiran dangkal.Kesejahteraan bisa jadi hanya sekedar mimpi sekiranya para pemimpin kita tidak merubah cara berfikirnya ini. Pemikiran pendek harus di ubah untuk berfikiran jauh, yaitu akhirat. Mengikuti As Sunnah Rasulullah dalam memimpin merupakan methodenya. Inilah cara berpikiran cemerlang. Wallahu ‘alam.
* judul dan ilustrasi diambil dari tulisan Ahmad bin Hanbal dalam web.islam.gov.my/forum/mesej.php dengan beberapa penyesuaian * * *(Maret’08, Ibnu Khaldun Aljabari)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Depa Raya?Kongsi Raya???

Bagi Islam,terdapat 2 hari raya yang diiktirafsepertimana yang dikhabarkan oleh Nabi saw di dalam hadisnya yang diriwayatkan dari Anas bin Malik katanya yang bermaksud:Ketika Rasul saw sampai di Madinah, bagi penduduk Madinah itu ada dua hari (raya) yang mereka bermain (berseronok) pada hari tersebut sepertimana kebiasaan semua kaum(Rom dan Parsi), setiap umat itu bagi mereka hari raya mereka tersendiri. Dan adalah bagi orang Arab Madinah ketika zaman Jahiliyah terdapat dua hari yang mana mereka bermain dan berseronok pada hari tersebut.Apabila Nabi saw melihat mereka menyambut dua hari tersebut, Nabi saw bertanya:hari apakah dua hari ini?Mereka menjawab:"Adalah kami di zaman Jahiliyah bermain(berseronok) dalam dua hari ini."Sabda Nabi saw:"Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kamu semua dengan hari yang lebih baik dari dua hari tersebut iaitulah hari raya al-Adha dan hari raya al-Fitr."(Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Nasaie dari Anas bin Malik. Sheikh al-Islam ibn Taimiyyah berkata:"Sesungguhnya isnad hadith ini berdasarkan syarat Muslim)

Di dalam hadith ini jelas menunjukkan dua hari raya di zaman Jahiliyah yang disambut oleh penduduk Madinah di peringkat awal itu tidak diiktiraf oleh Nabi saw walau untuk membiarkan mereka bermain pada dua hari tersebut sepertimana adat kebiasaan yang mereka lakukan. Bahkan Nabi saw menegaskan dengan sabda Baginda:Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kamu semua dengan dua hari yang lebih baik dari dua hari tersebut."
Nabi menegaskan Aid al-Adha dan Aid al-Fitr adalah 2 hari raya yang datng menggantikan hari raya yang disambut oleh masyarakat Arab Jahiliyah ketika itu.Apabila telah datangnya pengganti (al-Adha dan al-Fitr)maka yang diganti (dua hari raya di zaman Jahiliyah) ditinggalkan dan tidak mungkin untuk disambut bersama lagi buat selama2nya.

Suatu hari Abu Bakr masuk menemui Nabi saw di rumah Baginda. Dia dapati terdapat dua orang Jariah kanak2 yang sedang menyanyi.Lalu Abu Bakar berkata maksudnya:"Apakah dengan seluling syaitan ada di depan (rumah) Rasulullah saw? Nabi saw bersabda maksudnya :"Biarkan mereka berdua wahai Abu Bakar, sesungguhnya bagi setiap kaum itu ada hari raya mereka, dan hari ini adalah hari raya kita(umat Islam)."Ini petunjuk dari Nabi saw untuk mengkhususkan bagi setiap agama itu perayaan mereka tersendiri.

Di sisi ulama mazhab Hanafi berpendapat kufurnya seseorang yang hanya memberikan hadiah berupa sebiji telur pada hari tahun baru Parsi dalam bentuk memuliakannya. Jika kita himpunkan kesemua perkataan para ulama, kita akan dapati bahawasanya mereka semua mengharamkan menyambut perayaan bukan Islam termasuklah mazhab Hanafi, Maliki, Syafie, dan Hambali, bahkan mazhab al-Zohiri juga. Al-Syeikh Muhammad bin Soleh al-Munajjid pula apabila ditanya tentang hukum yang sam menjawab:"Tidak boleh bersama orang2 kafir menyambut perayaan2 mereka disebabkan perkara2 berikut:
1.Ia termasuk dalam al-Tasybbuh(menyerupai orang kafir).Nabi saw bersabda:"Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka dia termasuk salah seorang dari mereka."(hadith riwayat Abu Daud)Ini adalah amaran yang serius.Abdullah bin al-'Ash berkata:"Sesiapa yang hidup di atas tanah orang2 musyrik, lalu menyambut hari Nairuz(perayan tahun baru) mereka, dan perayaan2 mereka, dan dia telah menyerupai mereka sehingga mati, dia kan rugi pada hari kiamat."
2.Bersama di dalam perayaan adlh sebahagian daripad Mawaddah dan Mahabbah kepada mereka.Allah berfirman:"Jangan kamu menjadikan Yahudi dan Nasara itu Aulia'..." dan firmannya lagi:"Wahi orang2 yang beriman, jangan kamu menjadikan musuh2Ku dan musuh2mu sebagai teman 2 setia kamu, sampaikan kepada mereka (berita2 Muhammad) dengan sebab hubungan baik dan kasih mesra yang ada di antara kamu dengan mereka, sedangkan mereka telah kufur ingkar terhadap kebenaran yang sampai kepada kamu..."(al-Mumtahinah:1)
3.Sesungguhnya hari raya adlah perkara agama dan aqidah, ia bukan sekadar adat dunia sepertimana yang disebut di dalam hadith:"Bagi setiap kaum itu ada hari raya mereka, dan ini adalah hari raya kita.Hari raya mereka itu melambngkan aqidah mereka yang rosak, syirik, dan kufur."

Dr. Yusuf al-Qardhawi yang lebih ringan dalam masalah ini berpendapat boleh seseorang Muslim menyampaikan tahniah kepada perayaan Ahli Kitab tetapi melarang untuk menyambut sama sekali perayaan bukan Islam.Beliau menyebut:"Ini dlah daripada hak2 bersama, jika seseorang Ahli Kitab datang dn menyampaikan tahniah dengan perayaan kamu(Muslim) dan bersama dalam kesedihan dan musibah yang menimpa kamu dn mengucapkan takziah dalam musibah yang menimpa kamu , maka apakah pula larangan untuk kamu mengucapkan tahniah dengan perayaan mereka dalam kegembiraan mereka dan mengucapkan takziah dalam musibah yang menimpa mereka? Allah swt berfirman yang bermaksud:"Apabila kamu dihormati dengan satu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslh dengan yang serupa."(an-Nisa':86)Beliau menyambung dengan mengatakan:"Ini tidak bermakna kita menyambut perayaan itu bersama mereka, adapun ianya hanyalah ucapan tahniah."
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

CERPEN:Siti Sumaiyah


cerpen ini dikirimkan daripada sahabat saya dan saya catatkan di sini untuk kongsian kita bersama.moga kita dapat mengambil iktibar dan pengajaran bahawa Iman dan Islam itu tidak dapat diwarisi sesiapa sekalipun kita miliki ibu bapa dan persekitaran yang islamic....

Senja menyerakkan warna di ufuk barat ketika aku keluar daripada
perkarangan penjara, meninggalkannya dengan pandangan sayu yang
penuh dengan luka tersayat. Air mataku telah kering untuk menangisi
episod hari ini lantaran tragedi semalam yang cukup
menyedihkan. "Sabarlah, Sumaiyah....," cuma pesanan itu yang
diingatkan oleh suamiku sebelum aku melangkah pergi sebentar tadi.
Ya, Siti Sumaiyah ini akan terus sabar kerana sabar itulah yang
paling baik. Kerana sabar itulah yang terindah. Biarlah aku menjadi
seperti Sumayyah, sahabat Rasullulah s.a.w. yang terus sabar dan
teguh disiksa bertubi-tubi. Namun demi dinullah, keimanan terus
dipertahankan.

Selepas solat Maghrib, doaku berentet panjang. Air mataku mengalir
tanpa henti. Aku sedih. Aku kecewa. Aku benar-benar terasa sedih di
bumi fana ini. Tiada lagi kegembiraan yang menguliti. Telah hilang
senda gurau Nur Amana, puteri tunggalku. Sudah lenyap bisikan sayang
suami tercinta. Semuanya telah tiada.

Sekelilingku pemuh tomahan yang menyakitkan. Disekitarkan saban hari
dihidangkan kisah-kisah melukakan.Suamiku pula kini dipenjara.
Lengkaplah penderitaan ini. Aku sendiri tanpa dorongan dan semangat
yang saban hari ditiupkan dalam rohku.

Tiba-tiba hati kecilku berbisik, bahawa Allah tidak pernah
meninggalkan hamba-Nya sendirian. Ingatanku melayang pada firman-Nya
dalam surah Ad-Dhuha.

"Allah bersumpah demi waktu dhuha dan demi malam apabila telah
sunyi, sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan dan membenci
hamba-Nya.Kelak, Allah akan memberikan kurnia-Nya dan hatimu
pasti akan melindungimu?. Dulu kau dalam keadaan bingung lalu Allah
melindungimu?. Dulu kau dalam keadaan bingung lalu Allah memberi
petunjuk. Dan dia mendapatimu dalam serba kekurangan lalu Dia
mencukupkan".

Astagfirullah!. Aku beristigfar berkali-kali. Sesungguhnya aku tidak
sendiri. Allah bersamaku. Allah mendengar keluhanku. Allah tahu
resah dan gelodak yang melanda jiwaku. Allah tahu semua itu. Aku
sujud panjang, memohon istighfar. Air mataku mengalir. Aku terlena
di atas sejadah. Tubuhku benar-benar letih. Sudah hampir sebulan
aku berada dalam keadaan tidak menentu. Makan minumku sekadarnya.
Tidurku dihantui mimpi-mimpi ngeri. Hari-hariku penuh kesedihan dan
kekecewaan. Emosiku terganggu...

Hatiku berdebar-debar menunggu keputusan doktor. Wajah doktor wanita
yang bulat bersih itu kutatap sungguh-sungguh. "Emm... positif!
Memang Puan mengandung...," dia tersenyum memandangku. "Iyakah?,"
Aku seperti tidak percaya. Dia mengangguk. "Tahniah! Inai masih
merah lagi... memang mahu anak awal?", tanyanya. Aku angguk. "Tentu
husband Puan gembira, sampaikan ucapan tahniah saya padanya,"
katanya sebelum aku meninggalkannya.

Suamiku yang menunggu di luar tidak sabar menanti
jawapan. "Macammana?," Tanyanya. "Abang nak atau tidak?". "Mestilah
nak!". "Kalau Abang nak... adalah!".

Dia mengucup dahiku. Pelukannya erat. Aku gembira. Dia gembira.
Tuhan,syukurlah atas nikmat ini. Aku tahu dia amat sayang padaku.
Seperti sayangku padanya. Dan seperti kasih kami kepada janin dalam
rahimku. Dia menjagaku sebaiknya.

Makan minumku, sakit peningku. Dan segala-galanya. "Doalah, semoga
anak kita jadi anak yang baik,". Hari-hari itu yang diingatkan
padaku.

Aku teringat isteri Imran sewaktu mengandungkan Siti Maryam, wanita
suci, ibu Nabi Isa a.s. yang diberi kelebihan melahirkan anak tanpa
bapa. Isteri Imran menazarkan anak dalam kandungannya menjadi hamba
yang soleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Setelah melahirkan
seorang puteri, dia berdoa lagi semoga anak-anaknya diberi
perlindungan daripada syaitan yang terkutuk.

Aku pun ingin memiliki anak yang soleh, yang luhur pekertinya dan
teguh memegang syariat Allah s.w.t pada akhir zaman. Lalu, hari-hari
kubisikkan kepadanya kata-kata yang baik. Biarpun dia masih di dalam
rahim. Aku pasti ada pertalian yang menghubungkan aku dengannya. Aku
nyatakan harapanku dan saban hari bibirku tidak kering melagukan
ayat suci Al-Quran. Surah Yasin, Al-Luqman, At-Taubah, Yusuf dan
Maryam telah sebati dalam pengalamanku. Sebelum melelapkan mata,
suamiku akan mengajarnya membaca Al-Fatihah. Dan alangkah gembiranya
hati bakal ibu apabila janinnya bergerak-gerak, memberi tindak balas
pada kalimahtayyibah yang diajarkan.

Akhirnya dia kulahirkan setelah melalui kesakitan antara hidup dan
mati.Terubat hatiku melihat senyumannya. Dia banyak menyalin rautku.
Berkulit cerah dan berwajah bujur sirih. Paling seronok melihat
lekuk di kedua belah pipinya bila dia tersenyum. Nur Amana, nama
pilihan suamiku. Menggabungkan maksud cahaya Ilahi yang menaungi
setiap sudut hidupnya. Penuh barakah dan rahmat. Biar dia menjadi
wanita terpuji. Memiliki iman setinggi iman Siti Fatimah az-Zahra,
puteri Rasullulah s.a.w. yang terunggul.

Dan membesarlah dia dalam limpahan kasih sayang aku dan suami.
Takdir Allah s.w.t. menyuratkan kami tidak memperoleh anak lagi
selepas kelahirannya. Pelbagai usaha kulakukan, namun barangkali
puteri seorang itu sajalah amanah yang perlu disempurnakan
sebaiknya. Aku akur. Suamiku tidak banyak bicara.Ketentuan Allah
adalah sesuatu yang mesti diterima dengan reda.

Nur Amana anak yang bijak. Tidak sekadar memiliki kecantikan
lahiriah, akhlaknya terpuji. Tutur katanya mendamaikan jiwa. Bila
dipandang menyejukkan hati. Tidak pernah sekalipun mengangkat suara
pada orang tua. Malah kata maaf sering diucapkan bila terasa lakunya
menyentuh hati orang lain. Bahagianya hati suamiku. Sejuk perutku
yang mengandungkan. Dan syukurku melimpah kerana ibarat
dianugerahkan puteri seorang bidadari dari syurga.

Saat paling menyedihkan bila sepucuk surat bersampul coklat tiba
pada suatu tengahari.

Detik perpisahan bertemu jua. Nur Amana yang cermelang dalam
pelajaran ditawarkan melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Pun,
demi masa depannya kami merelakannya. Seperti suamiku, aku yakin
dengan ilmu Islam yang diterapkan dalam jiwanya dia mampu menangkis
segala unsur jahat.

Aku pasti Nur Amana akan terus teguh. Menjadi ikan yang tetap tawar
biarpun hidup di lautan masin. Lalu hari-hariku diulit rindu yang
dalam. Terkenang telatah manjanya, senyumannya, rajuknya, dan bila
menjamah hidangan tengahari tersentuh hatiku, teringat dia yang jauh
dirantau orang.

Kerabu pucuk paku dan ikan bakar sering membuatkanku menitiskan air
mata. Lauk itulah kegemaran Nur Amana. Namun, rindu terubat juga
bila sekali sekala suratnya menitip berita, menyatakan rindu dan
kasih tidak terhingga.

Lima tahun di negeri orang, Nur Amana kembali dengan kejayaan
membanggakan. Air mataku menitis. Jauh di sudut hati, aku berbisik
semoga anak inilah yang mendoakan kesejahteraan ibu dan bapanya bila
hayat berakhir nanti. Dan di luar dugaanku, pulangnya Nur Amana
membawa satu perubahan yang ketara. Dia berjilbab kini. Seluruh
tubuh termasuk wajah ditutup dengan kerundung gelap. Pun aku
bersyukur kerana perubahan itu menjurus kepada kebaikan.

Seperti suamiku, aku tidak membantah. "Di sana terlalu banyak
fitnah, Ma...," beritahunya suatu hari bila kutanya apa yang
mendorongnya memakai purdah. Aku pun menyedari, kemungkaran yang
memenuhi negara kafir tempat Nur Amana menuntut ilmu itu.
Alhamdulillah, kerana Nur Amana mengambil langkah bijak. Cuma
saudara mara banyak membantah. Katanya, dengan keadaan yang seperti
itu, Nur Amana sukar mendapat pekerjaan nanti. Rugilah kelulusan
tinggi yang diperolehi. Tapi Nur Amana cuma tersenyum mendengar
pertentangan-pertentangan itu. "Jangan bimbang Ma, pasti ada
rezeki untuk hamba Allah yang memegang syariat-Nya," Nur Amana
memujukku. Dan hatiku berbunga lega. Benar seperti kata-katanya,
tidak sampai sebulan pulang dari Amerika, Nur Amana mendapat kerja
di sebuah syarikat di Kuala Lumpur. Aku tidak begitu tahu tentang
tugasnya, tapi menurut Nur Amana sebagai eksekutif. Dan kehidupan
kami berlangsung seperti biasa.

Hilang sudah rindu membaraku. Nur Amana berada di sisiku kini.Hari-
hari berada di depan mata. Cuma beberapa bulan kemudian, sikap Nur
Amana mula berubah. Dia menjadi pemurung, jarang bercakap dan sering
mengurung diri dalam kamarnya. Keluarnya bila ke tempat kerja atau
bila kuajak makan bersama. Itupun kadang-kadang dia menolak.
Beberapa kali aku cuba mencungkil isi hatinya. Kenapa tiba-tiba dia
berubah laku. Pun aku tidak berjaya. Nur Amana cukup bijak mengelak
dan menyembunyikan.

Sehinggalah suatu hari aku dihubungi oleh seseorang, katanya Nur
Amana telah menghantar permohonan ke mahkamah untuk menukar agama
kepada Kristian. Bergegar jantungku. Suamiku terdiam lama. Ketika
itu Nur Amana tiada di rumah. Katanya out-station di Singapura
selama seminggu. Aku dan suami mengambil langkah berdiam diri
dahulu. Cerita sebenar perlu diperolehi oleh Nur Amana sendiri.
Bagaimana mungkin orang itu boleh membawa khabar itu, kalau tidak
ada apa-apa?. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Nur Amana
sehingga timbul fitnah yang sebegitu besar?. Persoalan demi
persoalan menujam diri menjadikan aku gelisah menanti kepulangannya.
Kepulangan Nur Amana kusambut dengan air mata yang entah untuk
apa. Yang pasti hatiku cukup bimbang. Cenderamata dari Singapura
dihadiahkan. Sehelai kain sutera berwarna ungu yang cantik. Pun
bagiku ia tidak bernilai apa-apa. Suamiku menggesanya cepat
membersihkan diri supaya dapat solat Maghrib berjemaah bersama.
Tapi, Nur Amana, memberi alasan letih dan meminta aku dan suami
solat dahulu. Bila azan Isyak berkumandang, sekali lagi suamiku
mengetuk pintu kamarnya mengajak Nur Amana solat bersama. Dan sekali
lagi juga Nur Amana menolak dengan alasan dia sedang menyiapkan
kertas kerja penting. Satu alasan yang tidak pernah dilakukan
olehnya. Nur Amana yang kudidik tidak pernah melengahkan waktu
solat. Tidak pernah mengutamakan kerja lain dari solat. Tapi,
mengapa hari ini begitu? Mataku dan suami bertentangan. Pun kami
cuma membisu. Bersabar dan menunaikan solat Isyak terlebih dahulu.

Selepas solat kulihat Nur Amana ke dapur, mengisi perut yang
berkeroncong. Tadi, kupanggil dia makan bersama tapi beralasan
letih. Kecewanya hatiku dan suami. Selepas makan, Nur Amana
menolak pintu bilik lagi, tapi cepat suamiku memanggil. Nur Amana
duduk dihadapanku. Dia kelihatan bersahaja. Gadis yang baru mencecah
24 tahun itu kulihat semakin manis. Wajahnya lembut. Matanya redup.
Bibir merah jambunya yang cantik sering mengukir senyuman. Soalan
pertama diajukan oleh suamiku.

Nur Amana tersentak. Dia menafikan sekeras-kerasnya. Katanya itu
cuma fitnah orang yang benci melihat kejayaannya. Hatiku lega. Nur
Amana, anakku masih memelihara agamanya. Sebulan kemudian, aku
dihubungi lagi. Permohonan Nur Amana untuk menukar agama telah
diluluskan. Sekarang Nur Amana berada di Kota Kinabalu, menghadiri
persidangan penganut agama Kristian sedunia. Darahku berderau. Sikap
Nur Amana yang mencurigakan akhir-akhir ini turut menipiskan
kepercayaan aku dan suami padanya. Aku tidak mampu bertahan lagi.
Suamiku juga begitu. Ketiadaan Nur Amana (out-station ke Singapura
lagi) memberi peluang kepada kami untuk memecah biliknya. Kamar
sederhana besar itu tersusun kemas. Sekuntum mawar yang entah siapa
pemberinya telah kering di atas meja. Dari kad kecil yang terlekat
cuma tertulis tahniah dan tersusun buku-buku tebal di atas rak. Aku
menghampirinya.

Dan jantungku berdegup kencang bila hampir semua buku-buku tebal itu
adalah berkenaan agama Kristian, termasuklah sebuah Bible dan
terjemahannya. Aku menggeletar. Terasa lemah seluruh anggotaku.
Suamiku segera menghubungi mahkamah meminta kepastian. Dan jawapan
yang diberikan begitu menyakitkan. Air mataku turun tanpa henti. Apa
salah didikanku, lalu dia jadi begitu? Subhanallah!

Nur Amana pulang. Terkejut bukan main Nur Amana bila mendapati pintu
biliknya telah dipecahkan. Suamiku menghujaninya dengan pertanyaan
demi pertanyaan. Nur Amana membisu membiarkan kemelut terus
berpanjangan.Namun akhirnya, penjelasan dilafazkan jua. "Saya
mencintai Adam... pemuda Kristian, saya benar-benar cinta padanya
dan terperangkap dalam agama itu...," dan sepantas kilat sebuah
tamparan hinggap ke pipinya. Kemarahan suamiku sampai ke puncak.
Kesabaran terus terhapus. Nur Amana menangis. Aku terkaku.
Sesungguhnya hakikat ini terlalu pahit.

Paginya Nur Amana hilang dari rumah. Kamarnya kosong. Nur Amana
membawa bersama segala pakaian dan buku-buku. Nur Amana bagai
mengatakan bahawa "cuma setakat ini saja hubungan kita".
Nur Amana seolah-olah memutuskan bahawa aku bukan ibunya lagi,
suamiku bukan bapanya lagi. Air mataku mengalir dan terus mengalir.
Hiba hati seorang ibu.

Suamiku bertindak pantas melaporkan kepada polis. Nur Amana lari
dari rumah! Pun polis tidak menemuinya. Suamiku membuat permohonan
membantah pertukaran agama yang dibuat oleh Nur Amana. Tiada pilihan
lain, akhbar terpaksa digunakan meminta Nur Amana hadir ke mahkamah.
Lalu, cerita Nur Amana menjadi hangat. Saban hari kisahnya
terpampang di akhbar dan kaca televisyen. Latar belakangnya
dicungkil. Kemudian peribadi Nur Amana dikritik. Pendidikan ibu bapa
dan sekolah dijadikan alasan. Dan akhirnya, ramai yang menyimpulkan,
Nur Amana gadis terpuji tersungkur ke perangkap Kristian kerana
cinta! Alangkah dangkalnya iman Nur Amana. Alangkah!

Pada hari perbicaraan, Nur Amana hadir bersama seorang lelaki muda
berdarah India. Nur Amana tidak bertudung litup lagi. Rambutnya
dibiarkan mengurai ke bahu. Rambut yang sebelum ini tidak pernah
dilihat oleh mata lelaki ajnabi. Dan, terasa gugur jantungku bila
terlihat sebentuk salib dibuat dari emas tulin bercahaya ditimpa
cahaya lampu megah tersemat di dadanya. Nur Amana tunduk. Langsung
tidak memandang kepada sesiapa. Wajahnya tenang. Perbicaraan
dijalankan. Detik demi detik berlalu. Keputusan diumumkan. Suamiku
gagal!

Undang-undang negara memberi kebebasan beragama kepada rakyatnya.
Dan kami tidak berhak menghalang kerana Nur Amana telah berumur
lebih daripada 18 tahun. Lelaki muda di sebelah Nur Amana ku lihat
tersenyum lega.

Hatiku hancur. Di mataku terbayang hukum Allah. Orang murtad akan
dikenakan hudud! Dipancung setelah enggan setelah disuruh bertaubat.
Nur Amana bukan tidak tahu itu. Bukan Nur Amana tidak tahu. Tapi,
mengapa dia terus berdegil, tidak insaf dengan dosa itu?. Aku rebah
dalam pelukan suamiku. Tubuhku merasa tidak bermaya. Dia tunduk.
Wajahnya merah padam menahan kemarahan. Jemariku digenggam erat. Air
matanya mengalir perlahan membasahi pipi. Menitis jatuh ke
pipiku. Itulah kali pertama kulihat air matanya gugur. Aku tahu
hatinya. Dan cuma aku yang tahu hatinya. "Demi Allah! Aku bersumpah
negara ini tidak akan aman kerana memegang undang-undang kafir!".
Tiba-tiba suaranya lantang menjerit, meggegarkan suasana mahkamah
yang telah sediakala hingar apabila mendengar keputusan mahkamah
tadi. Mahkamah sunyi seketika. Semua mata tertumpu padanya. Tiba-
tiba jeritan itu disambut dengan laungan "Allahu Akbar" dari orang
yang tidak puas hati dengan keputusan mahkamah. Aku cuba meredakan
kemarahannya. Namun air matanya semakin lebat. "Mahkamah ini tidak
adil! Sekular! Undang-undang penjajah!'.

Keadaan semakin gawat apabila polis menangkap suamiku. Suamiku
meronta-ronta, tapi pegangan kejap beberapa orang anggota polis
melemahkan kudratnya. Dan akhirnya dia mengalah, membiarkan
tangannya digari. Ketika melintasi Nur Amana yang terus tenang
berdiri di sebelah lelaki muda yang tidak kukenali itu, suamiku
menoleh. "Kalau jalan ini yang kau pilih, teruskanlah... tapi ingat,
kehidupanmu pasti tidak akan selamat!," Nur Amana tidak menjawab.
Tunduk. Kaku bagai patung. Pun kulihat sekilas senyuman di bibir
lelaki muda di sebelahnya. Hatiku tercalar. Keranamu Nur Amana,
seorang ayah akan hilang seluruh kebahagiaan hidupnya.

Dan hari ini, suamiku merengkuk dalam penjara. Dituduh menderhaka
kepada mahkamah! Dan ditakuti akan mencetuskan huru-hara kerana
menerbitkan sentimen perkauman juga keagamaan.

Aku terjaga ketika jam dinding di ruang tamu berdenting tiga kali.
Aku belum solat Isyak. Astagfirullah. Dari tadi aku tertidur dan
menyambung mimpi ngeri semalam. Aku segera membaharui wuduk. Solat
Isyak kudirikan. Kemudian kususuli dengan solat Taubat dan Hajat.
Air mataku gugur lagi pada dinihari yang sepi. Doaku tidak putus.
Hatiku retak. Namun jauh di sudut hati. Aku terus berharap...
pulanglah anakku, Nur Amana!.



Aduhai, kisah natrah berulang kembali...agama dipermainkan oleh
undang-undang sekular. Lihatlah betapa rapuhnya undang-undang
sehingga tidak dapat mempertahankan agama ISLAM yang dikatakan
agama RASMI. Sampai bila perkara ini akan berakhir.....betapa
hibanya hati seorang ibu bila anaknya murtad dan kita tahu hukumnya
dan kita tahu masih banyak lagi kes yang sama seperti nur amana.
apakah tindakan kita yang mengaku dirinya ISLAM, apakah tidak
tercabar oleh permainan pihak kuffar ini???? permainan ini semakin
bermaharajalela di tanah air kita....sedarlah.....

Kita akan tertindas selagi HUKUM ALLAH TIDAK DITEGAKKAN DI
BUMI.......MALAYSIA khasnya....



Uhibbukum fillah,
Nurul Sharina Salim
Reformist'98... Bebaskan Anwar dr kezaliman dan ketidakadilan!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

Followers